Welt

Seringkali lupa, kalau dunia ini bukan tujuan. Setiap tujuan di dunia, tidak akan ada akhirnya. Tujuan kuliah, nikah, kerja, punya anak, semua itu bukan akhir. Sometime kamu harus membiasakan hidup dengan banyak orang supaya bisa bersyukur. Belajar bisa darimana saja, belajar bisa dari siapa aja. Apapun bisa jadi pemacu motivasi, makanya jangan lelah untuk men-tafakuri alam dan kehidupanini.

 

20171113_202937

Advertisements

Motivation theory 1

Ada sebuah teori motivasi yang menyebutkan; kalau kamu mau sukses, ikuti kebiasan orang sukses. Kebiasaan para CEO itu setidaknya menghabiskan 1 buku per minggu. Kebiasaan orang jerman itu disiplin dan berkomitmen tinggi.

kebiasaan mahasiswa jerman itu menggunakan public transportation kemanapun. Und dann, ich muss memulai menjadi customer setia public transportation sebeum menjadi mahasiswa s2 di jerman!

20171109_135008.jpg

Bismillah!

Hijrah! Jadikan bukan ramadhan sebagai bulan mu untuk berubah, karena Allah!

Juli – kerja praktek

agustus – mulai intensif kursus bahasa jerman

September – turun dari gelas kordas *aamiin

november – finalisasi skripsi/TA

JANUARI TANGGAL 11 TAHUN 2018 – BISMILLAH SIDANG TANPA REVISI

Maret – WISUDA AAMIIN

April – preparation test C1 bahasa jerman

Mei – apply data S2 di jerman

juni – persiapan berkas Visa

september – MULAI STUDI S2 DI JERMAN!

Innallaha ma’ana!

Tentang tirani mayoritas

Persoalan Pak Basuki sudah banyak dikomentari. Bagi saya perihal putusan biar jadi urusan Hakim dan Tuhan. Sebab, saya percaya hakim sebagai “wakil” Tuhan dalam usaha menegakkan keadilan-Nya. Masing-masing berhak mengusahakan keadilan bagi dirinya.

Saya lebih khawatir perihal satu hal: Keindonesiaan.

Berbagai tulisan, terutama yang diposting di luar negeri melihat vonis kasus ini sebagai penyempurna simpulan “tirani mayoritas” terjadi di Indonesia. Jika Anda lahir dalam kelompok minoritas jangan harap Anda mendapat keadilan. Jangan harap jadi gubernur, mentri, wakil, apalagi presiden.

Mungkin tak banyak yang menggubrisnya, tapi saya kira itu pendapat berbahaya.

Sebab, cara ambil simpulan seperti itu sama saja tak ada beda dengan arus yang dikritisi selama ini: mereka yang meletakkan segala persoalan dalam kotak “hitam” dan “putih”. Kata mayoritas dalam konteks politik sungguh-sungguh buram, Kawan. Apakah identifikasinya adalah kekuatan politik (partai pendukung), penganut agama yang sama, jumlah pengusaha yang ada di belakangnya? Variabelnya akan tak terhingga. Maka mengatakan jatuh vonis sidang penistaaan agama sebagai bukti tirani mayoritas, pertanyaan yang mesti melengkapinya adalah, mayoritas apanya?

Agama? Muslim? Saya muslim. Saya bagian dari mayoritas. Belasan tahun saya mengusahakan dialog antaragama dalam setiap tulisan saya. Pak Jarot Muslim. Beliau pasang badan siap menggantikan Pak Basuki di dalam penjara. Tidak…

Mayoritas dalam konteks muslim non muslim tidak bisa begitu saja ditarik simpulan melakukan penindasan hanya karena ia mayoritas. Sebab saya yakin, di luar sana, ratusan juta Muslim Indonesia masih mewarisi semangat toleransi nenek moyangnya. Mereka yang meyakini bahwa; menjadi minoritas itu tidak mudah, tapi menjadi mayoritas itu pun sangat sulit. Mengapa sulit? Sebab setiap waktu harus menahan diri, mengingatkan diri agar selalu adil dan penuh kasih sayang.

Mayoritas yang mana?

Jawa non Jawa?

Jika kacamata politik yang kita pakai, siapa yang hendak menampik, sebagai politikus, setiap pelakunya punya lawan politik? Dan apakah lawan politik sang minoritas benar-benar murni berasal dari komponen mayoritas? Mayoritas dalam hal apapun: etnis, agama, macam-macam.

Sebaliknya, apakah politikus dari kelompok minoritas lalu sepenuhnya bersandar pada kekuatan minoritas?Saya sangat yakin…tidak. Coba cek agar Anda percaya.

Maka inilah politik. Apa yang tampak hampir selalu berbeda dengan apa yang tertutupi di sebaliknya. Jadi saya ingin sekali membujuk mereka yang pada dasarnya masih berpikir bening, mari tempatkan masalah pada porsinya. Jangan korbankan keindonesiaan. Justru hal yang saya pikir harus menjadi tradisi selepas ini adalah, semua penyeru menahan diri. Ya sudah fokus saja pada keyakinan sendiri.

Saya sendiri? Tidak. Saya tidak akan berhenti. Saya tetap akan berdialog tentang perbedaan dalam karya-karya saya. Saya tidak akan takut bayang-bayang penistaan. Sebab, saya percaya pada sebagian besar kericuhan antaragama, diawali kesalahpahaman. Ketidakmengertian bahwa setiap perbedaan memiliki sejarah yang panjang.

Seperti Rasulullah saw. yang menolak menghukum penduduk Thaif yang melemparinya dengan batu dan ditolong Addas, sang budak Kristen dari Irak. Sebab beliau tahu, orang-orang itu tak tahu. Mereka yang tak tahu wajibnya diberitahu.

Hanya dialog yang akan menumbuhkan saling percaya. Hanya keterbukaan yang mampu mengusir prasangka.

Kecuali kita sudah berhenti meyakini ide tentang INDONESIA.

Bodoh.

Manusia memang bodoh, termasuk saya yang tidak luput dari kesalahan. mengikuti hawa nafsu, Meninggalkan ibadah.

coba duduk sejenak bersyukur apa yang telah diberikan. menggenapkan ibadah, Menikmati keindahan dunia untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat.

ingat apa yang telah dilakukan. Tidak masalah kamu hidup sendirian fik, yang penting hidup jalan yang benar. apapun konsekuensinya.

Iya betul manusia memang bodoh bodoh dan sumbernya segala kesalahan.

FB_IMG_1493252784052

Asisten lab?

Ingat dulu awal datang ke telkom ada satu lab yang menarik hati. Ya lab itu namanya laboratorium proses manufaktur.

Siswa SMA 24 ini dulu datang ke kampus telkom university untuk melihat kampus swasta yg terbaik dengan fakultas industri dengan akreditasi terbaik saat itu. Ingat dulu awal kali tertarik waktu mengikuti try out bersama teman saya sakina, ya disitu awalnya menyukai kampus ini.

Tiga tahun berlalu, sekarang saya menjadi bagian dari lab manufaktur yg terkenal dengan lab ter mahal di telkom. Karena lab ini memakai mesin-mesin besar ala industri manufaktur dengan harga 1 sampai 2 dengan angka 0 nya 9 digit. Dan lebih lagi, saat ini juga diberi amanah untuk menjadi ketua dari seluruh anggota lab itu. 

“Orang bodoh adalah orang yg mengharapkan menjadi pemimpin. Tapi orang hebat adalah orang yg dipilih menjadi pemimpin dan dia maksimalkan untuk beribadah.”

3 tahun lalu tidak pernah terlintas untuk menjadi pemimpin. Tapi banyak hal yg bisa diambil. Banyak relasi yg bisa di maksimalkan. Banyak pelajaran yg saya terima. Dan ketika 3 tahun yg lalu saya kecewa apabila ada yg bilang “aku gasuka usaha kamu buat cari ptn. Karena usaha kamu sedikit, makanya masuk ke telkom.” sekarang bisa dibuktikan. 

Bukan usaha salahnya, emang almamater yg saya usahakan bukan kampus negeri. Bahkan kampus negeri manapun memiliki lab manufaktur tidak sebaik di telkom. Memang saya terlalu suka dengan teknik industri ya sepertinya 

Dan dari sini, saya bisa melihat lebih tinggi bahwa jalan kuliah menuju jerman semakin dekat 🙂

Foto udah lama sih

Haa ini sebenernya foto udah lama. Hanya mau di save disini aja. Dalam foto ini isi nya anak BEM satu kementrian. Walau saya sering izin karena amanah di lab lebih besar, tapi mereka masih ingat 🙂 

Yang kebetulan rayain bareng sama ultah nya wilda, jadi ini di kosan wilda wkwk. Kak desi sebagai menteri, rio teman dekat saya, kenta penyemangat, nanda tukang nagih uang, rere pengingat, indra pendiam dan banyak lagi yang bisa dikenal di BEM ini. Banyak pengalaman disini, mengenal alumni dan sampai bupati pun sudah pernah ketemu. Great experience! 

Semoga sukses guys!

Democrazy?

Ada sebuah post yang menurut saya sangat penting untuk diketahui oleh siapapun. Mengenai isu agama yg digunakan untuk kepentingan politik. Logika digunakan dengan maksimal tanpa menghiraukan tafsir. Al quran di anggap kitab bebas tafsir yang dapat dicerna mudah oleh siapapun. Ya! Inilah akhir zaman dimana pergerakan islam dihadang di hadang dari seluruh aspek. Orang islam seperti buih di lautan yang dengan mudah terbawa kemanapun media dan isu membawa. 

MUI, Ahok dan Pilpres Amerika 

Denny JA 

Bolehkan MUI membuat pernyataan bahwa Ahok telah menistakan agama Islam dan menghina ulama? Bolehkan MUI bahkan lebih jauh lagi misalnya menyerukan umat Islam tak memilih Ahok, tapi memilih kandidat lain saja? 

Inilah yang kini ramai di ruang publik. Secara resmi MUI membuat pernyataan yang ditanda tangani oleh ketua umumnya. Pernyataan itu memberi pesan bahwa setelah mempelajari kasus dengan cermat, MUI menganggap Ahok sudah menistakan Islam dan ulama, dalam kasus surat Al Maidah di kepulauan seribu. 

MUI meminta masyarakat tidak main hakim sendiri. NAmun MUI juga meminta pemerintah menindak lanjuti kasus ini secara hukum. 

Dalam pernyataan itu, MUI TIDAK membuat pesan jangan memilih atau menyarankan memilih kandidat tertentu. 

JIka demokrasi modern yang menjadi rujukannya, jawabnya itu boleh dan sah saja. MUI dibolehkan oleh demokrasi modern untuk memberikan pandangan, himbauan sesuai dengan bidangnya, kepada umatnya. Ini bagian dari hak asasi yang dihormati dalam sistem demokrasi. 

Tentu lembaga agama lain dibolehkan juga tidak setuju dengan MUI, dan boleh memberikan himbauan dan rekomendasi sebaliknya. 

Yang penting tak ada pemaksaan gagasan di sana. Semua kemudian dikembalikan kepada masyarakat untuk mengambil sikap. Pemerintah juga harus tegas membolehkan keragaman respon, dan melarang sisi kriminalnya saja. 

MUI bukan lembaga pemerintahan. Hanya lembaga pemerintahan yang diharuskan netral. 

Melarang MUI bersikap, atau melarang lembaga lain bersikap sebaliknya, itu melanggar hak asasi, dan mencederai sistem demokrasi, baik di tingkat konsep ataupun praktek. 

Marilah kita lihat apa yang terjadi dalam praktek agama dan politik di Amerika Serikat saat ini. Kebetulan kini di saat yang sama sedang berlangsung pemilu presiden yang sangat hot antara Donald Trump dan Hillary Clinton. 

Om Google mempermudah kita melihat apa yang terjadi di sana. Kita lebih mudah mencari dan membaca sendiri bagaimana demokrasi modern itu dipraktekkan. 

The American Renewal Organisation, organisasi agama konservatif di Amerika secara terbuka menyatakan pilihan politiknya. Seperti diberitakan Washington Post, 10 May 2016, David Lane, pemimpinnya, menulis surat (email) kepada 100.000 pastor. 

Surat itu secara jelas menghimbau para pastor untuk memilih Donald Trump. Dibandingkan denga Hillary, Donald Trump dianggap lebih bisa mewakili nilai kristiani. Sementara Hillary berdasarkan rekornya lebih banyak memajukan agenda yang terlalu sekuler (Godless agenda). 

Namun di saat bersamaan, pemimpin agama lain juga dibolehkan bersikap sebaliknya. Sebanyak 60 pemimpin kristen berkoalisi membuat pernyataan terbuka. Atas nama ajaran Kristiani, Donald Trump harus ditolak. Dengan sendirinya Hillary Clinton menjadi pilihan. Alasannya, karakter dan rekor Donald Trump jauh dari yang diajarkan prinsip kristiani. 

Dua kubu yang sama sama ahli agama kristen, sama sama ingin mendasarkan diri pada injil, bersikap bertentangan soal rekomendasi pilihan presiden. Semuanya oke saja dan sah saja. 

Sistem demokrasi membolehkan masing masing kelompok agama bukan hanya membuat pernyataan, tapi mengkampanyekan. 

Mengapa para pemimpin agama dibiarkan berpolitik? Tidakkah ini berbau SARA? Mengapa mereka selaku pemimpin umat tidak netral? Tidakkah nanti Amerika akan pecah karena isu SARA itu? 

Demokrasi dalam konsep ataupun praktek, hanya bisa berjalan dengan memberikan kebebasan warganya untuk berpendapat dan mempengaruhi orang lain. Ketika pemilihan umum dipilih, semua yang terlibat dibolehkan mengkampanyekan agendanya. 

Semua pihak dibolehkan melakukan manuver untuk menang dan kalah dengan aneka cara yang dibolehkan aturan demokrasi modern dan hak asasi. Setelah itu biarkan rakyat yang memilih secara bebas. 

Dasar dari kebebasan dalam demokrasi modern adalah lsafat yang diungkapkan secara indah oleh Voltaire: Saya tak setuju pendapat tuan, namun hak tuan menyatakan pendapat itu akan saya bela sampai mati. 

Kita boleh saja tak suka agama dijadikan dasar memilih atau menolak Trump. Namun kita tak boleh melarang mereka mengkampanyekannya. 

Ruang publik milik bersama. Aneka gagasan yang bertentangan dibolehkan dinyatakan bahkan dikampanyekan. Yang tak boleh adalah hate speech, tnah, kekerasan, penghinaan dan aneka hal lain yang masuk dalam kategori hukum kriminal. 

Ketika demokrasi dipilih, apa yang dibolehkan oleh praktek demokrasi jangan dilarang. 

Agak aneh situasi di pilkada Jakarta hari ini. Reformasi sudah berjalan 18 tahun, tapi ideologi Orde Baru soal SARA masih menghantui. Celakanya ketakutan isu SARA itu juga melanda the so called para pejuang kebebasan, keberagaman, diskriminasi, dll. 

Seolah yang boleh dibicarakan dan dikampanyekan hanya program saja. Seolah isu SARA itu porno, tak boleh dibicarakan terbuka. Isu SARA itu “jijik” dan ingin disembuyikan di bawah permadani. 

Larangan isu SARA itu memang satu paket dengan ideologi otoritarian model Orde Baru. Pemerintah yang lebih tahu apa yang boleh dan tidak. Warga harus ikut saja. Juga mungkin saat itu, isu SARA dianggap membahayakan NKRI. 

Celakanya mitos SARA itu diteruskan sampai kini. Bahkan diyakini pula oleh mereka yg merasa memperjuangkan kebebasan. 

Padahal keberagaman yang diperjuangkan harus berangkat dari satu prinsip toleransi. Yaitu menoleransi warga tak hanya beragam soal keyakinan agamanya, tapi juga beragam soal motivnya memilih pemimpin. 

Ada warga memilih pemimpin karena program. Ada warga memilih pemimpin karena karakter. Atau warga memilih pemimpin berdasarkan keyakinan agama. Dan sebagainya dan sebagainya. 

Hak asasi dan demokrasi membolehkan semua itu. Silahkan masing masing meyakinkan publik. 

Itu sebabnya dalam buku teks mengenai voting behavior, dikenal keragaman prilaku pemilih. Itu adalah riset yang merekam prilaku pemilih di seluruh dunia. 

Menyeragamkan prilaku pemilih hanya boleh memilih karena program saja bertentangan dengan prinsip kompleksitas dunia modern. Dunia tak hanya berisi roti saja dan program saja. 

Apakah isu SARA itu akan membuat Indonesia pecah? NKRI terancam? Inilah gaya menakut-nakuti yang diwariskan sejak Orde Baru, dan diteruskan pula hingga 18 tahun reformasi. 

Membiarkan warga mengekspresikan gagasannya, bahkan yang berbasis agama sekalipun, justru bagus buat pemimpin. Yang penting pemerintah tegas memisahkan mana yang kriminal mana yang bukan. Yang harus dilarang dengan keras hanya sisi kriminalnya; hate speech, tnah, kekerasan, pemaksaan, bukan isi gagasannya. 

Jika mobilisasi politik aliran dibiarkan, sejauh dalam koridor bukan kriminal, dan pemerintah tegas menerapkannya, justru itu lebih baik untuk Indonesia. 

Ke depan, pemimpin akan lebih peka terhadap warga yang dipimpinnya. Pemimpin dipaksa untuk membuka mata: bahwa ia tak hanya memimpin gedung dan Kali Ciliwung. Ia juga memimpin manusia dengan segala subyektivitasnya. 

Tentu saja NKRI tetap terjaga. Plus, sang pemimpin lebih berempati dengan apa yang dianggap penting oleh warga, seburuk apapun yang dianggap penting itu, sejauh dibolehkan oleh konstitusi, demokrasi dan hak asasi.

Sumber: https://www.inspirasi.co/post/details/22799/mui-ahok-dan-pilpres-amerika?utm_campaign=shareaholic&utm_medium=twitter&utm_source=socialnetwork

Dari Tsauban Ra. berkata Rasulullah SAW bersabda; “Hampir tiba suatu zaman di mana bangsa-bangsa dari seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang kelaparan mengerumuni talam hidangan mereka”. Maka salah seorang sahabat bertanya, “Apakah kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gentar terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan melemparkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’. Seorang sahabat bertanya: “Apakah ‘wahan’ itu, hai Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Cinta dunia dan takut mati“. (HR. Abu Daud)